Pemikiran Ekonomi Islam Pada Masa Awal Turki Usmani
Peran Bangsa Turki Usmani
Bangsa Turki mempunyai peran yang sangat strategis dalam perkembangan kebudayaan Islam. Peran strategis tersebut terlihat dalam bidang politik ketika mereka masuk dalam tentara profesional maupun dalam birokrasi pemerintahan yang bekerja untuk khalifah-khalifah Bani Abbas. Kemudian mereka sendiri membangaun kekuasaan yang sekalipun independen namun tetap mengaku loyal kepada khalifah Abbas. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya Bani Saljuk (1038-1194). Setelah hancurnya Bagdad ditangan bangsa Mongol, orang-orang Turki semakin mempertegas kemandirian mereka dalam membangun kekuasasaannya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Turki Usmani (1281-1924). Bahkan pengaruh dinasti itu menjangkau wilayah yang sangat luas, termasuk Eropa Timur, Asia Kecil, Asia Tengah, Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara.
Selama lima abad pemerintahan Turki Usmani, telah memainkan peranan yang pertama dan satu-satunya dalam menjaga dan melindungi kaum muslimin. Turki Usmani merupakan pusat Khilafah Islam, karena merupakan pemerintahan Islam yang terkuat pada masa itu, bahkan merupakan Negara paling besar di dunia.
Puncak kemajuan Turki Usmani berada pada zaman pemerintahan kekuasaan Sultan Mahmud II, antara lain pada tahun 1453. Pada saat ini Turki Usmani dapat menaklukkan Byzantium Romawi. Dari Istambul mereka menguasai daerah sekitar laut tengah dan berabad-abad lamanya Turki sebagai suatu Negara yang perlu diperhatikan dan diperhitungkan oleh ahli-ahli politik dari Eropa. Dalam termin Islam secara keseluruhan, puncak-puncak baru pencapaian dalam puisi, seni dan arsitektur diukur selama periode ini. Dimasa itu pula Usmani melakukan ekspansi besar-besaran.
Sejarah Perkembangan Turki Usmani
Dalam literatur sejarah Islam tercatat bangsa Turki berhasil mendirikan kekuasaan, yaitu Turki Saljuk dan Turki Usmani. Turki Usmani didirikan setelah hancurnya Turki Saljuq yang telah berkuasa selama kurang lebih 250 tahun.
Negara Utsmani muncul pada tahun 669 H. Akan tetapi, negara ini baru menganut sistem kekhalifahan pada tahun 923 H. Yakni saat transisi dari negara Islam menjadi kekhalifahan Islam, dan terus membela Islam sehingga lembaran sejarahnya ditutup pada tahun 1337 H.
Kerajaan ini didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghuz (ughu) yang mendiami daerah Mongol dan daerah Utara Cina, yang kemudian pindah ke Turki, Persia dan Irak. Mereka memeluk Islam kira-kira abad IX atau X, yaitu ketika mereka menetap di Asia tengah. Hal ini karena mereka bertetangga dengan dinasti Samani dan dinasti Ghaznawi, karena tekanan - tekanan bangsa Mongol, mereka mencari perlindungan kepada saudara perempuannya, dinasti Saljuq. Saljuq ketika itu dibawah kekuasaan Sultan Alauddin Kaikobad. Ertogul yang merupakan pimpinan Turki Usmani pada waktu itu berhasil membantu Sultan Saljuq dalam menghadapi Byzantium. Atas jasa inilah ia mendapat penghargaan dari Sultan, berupa sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan memiliki Syukud sebagai Ibu kota.
Kondisi Sosio-Pendidikan Islam
Pada dasarnya proses pendidikan Islam di kerajaan Turki Usmani sebenarnya telah berlangsung sepanjang perkembangan sosial politik dan sosio-keagamaan. Maka untuk dapat mengetahui dinamika kehidupan serta kecenderungan masyarakat dan kebudayaan yang dihasilkannya pada suatu kurun waktu tertentu, cara paling cepat adalah dengan melihat kecenderangan pola hidup para penguasanya. Metode ini akan memperoleh validitas lebih tinggi jika dipergunakan pada model-model perkembangan masyarakat di bawah pemerintahan yang bersifat monarki. Dalam konteks kajian ini, untuk melihat dinamika kehidupan sosio-pendidikan akan dimulai dengan melihat sikap para sultan sebagai kepala pemerintahan di kerajaan Turki Usmani, terhadap pendidikan dan pengembangan keilmuan secara umum.
Institusi pendidikan pada masa Turki Usman mula-mula didirikan oleh Sultan Orkhan (1326-1359),33 Sistem pengajaran yang dikembangkan adalah menghafal matan-matan meskipun murid tidak mengerti maksudnya, seperti menghafal matan al-Jurumiah, matan Taqrib, matan Alfiah, matan Sultan dan lain-lain. Murid-murid setelah menghafal matan itu barulah mempelajai syarahnya, kadang-kadang serta khasiyahnya. Sedangkan Ilmu pengetahuan keislaman seperti fiqih, tafsir, ilmu kalam dan lain-lain tidak mengalami perkembangan. Kebanyakan penguasa Usmani cenderung bersikap taqlid dan fanatik terhadap suatu mazhab dan menentang mazhab yang lain.
Kondisi Ekonomi
Turki Usmani merupakan bangsa yang berdarah militer, Turki Ustmani lebih memperhatikan kemajuan bidang politik dan militer. Dengan demikian kondisi ekonomi dan keuangan turut memberikan andil bagi perkembangan lslam di kerajaan Turki Ustmani. Terjadinya peperangan yang berkesinambungan yang menimpa Turki Usmani baik peperangan yang bersifat ofensif-ekspansif (untuk memperluas wilayah kekuasaan), defensive (mempertahankan diri dari serangan luar) maupun yang bersifat prefentif (untuk memadamkan pemberontakan- pemberontakan dari dalam). Berbagai peperangan ini sangat menguras sumber dana Turki Usmani.
Sebagai konsekuensi logis dari peperangan yang berkepanjangan ini adalah melemahnya sendi-sendi kekuatan kerajaan dibidang militer, administrasi dan lainnya. Peperangan tersebut juga berdampak pada merosotnya perekonomian Turki Usmani karena pendapatan negara berkurang secara drastis sementara belanja negara semakin tinggi untuk biaya perang.
Peperangan yang tak kunjung usai dan merosotnya perekonomian negara maka secara simultan juga berakibat pada terabaikannya kesejahteraan umum. Penguasa Turki Usmani tidak lagi memikirkan apalagi memperhatikan pola pembangunan dan rehabilitasi jalan-jalan, rumah sakit, sekolah-sekolah serta prasarana ekonomi seperti pembangunan sektor pertanian, pengairan atau pemeliharaan bendungan, sehingga para petani kehilangan harapan untuk mengembangkan taraf hidup mereka. Kondisi demikian berdampak pada berbagai sektor.

Komentar
Posting Komentar