Kecerdasan Emosional dalam Islam

Kecerdasan menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai intelegensi atau perihal cerdas, dengan makna lain diartikan perkembangan akal budi yang menuju ke arah sempurna. Kecerdasan ada beberapa jenis, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

Seseorang yang memiliki IQ tinggi dianggap bias menjadi orang yang mampu menyelesaikan masalah dengan baik dan mudah beradaptasi dengan situasi yang baru. Pada umumnya, dalam pendidikan formal, seseorang yang memiliki IQ tinggi mempunyai peluang lebih unggul dari yang lainnya. Akan tetapi, saat ini yang menjadi perhatian adalah seseorang yang memiliki IQ saja tidaklah cukup, mereka juga harus mampu mengontrol emosi dengan baik dengan cara memiliki kecerdasan emosional.

Menurut Daniel Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.


Empat komponen dalam emotional intelligence berhubungan dengan islam:

Self-Awarness

Mengenali perasaan saat itu terjadi – adalah kunci kecerdasan emosional. Orang-orang dengan kepastian yang lebih besar tentang perasaan mereka adalah pilot yang lebih baik dalam hidup mereka, memiliki perasaan yang lebih pasti tentang bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya tentang keputusan pribadi.

Islam sangat menekankan pada kesadaran diri. Dalam Surat Al-Hasyr Ayat ke-19, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang meninggalkan Allah, maka Dia menjadikan mereka meninggalkan jiwa mereka sendiri: mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”

Ayat ini menekankan bahwa untuk mengenal pencipta Anda lebih baik, Anda harus mengenal diri sendiri lebih baik. Jika kita mengenal pencipta kita lebih baik maka pasti kita akan mengenal diri kita lebih baik kita akan mengetahui perbedaan kita sendiri lebih baik dan kita akan belajar apa yang membuat kita 'manusia', lebih unggul dari Hewan.

Self-Management

Menangani perasaan agar sesuai adalah kemampuan yang dibangun di atas kesadaran diri. Orang-orang yang miskin dalam kemampuan ini terus-menerus berjuang melawan perasaan tertekan, sementara mereka yang unggul dapat bangkit kembali jauh lebih cepat dari kemunduran dan gangguan hidup.

Dalam Islam konsep mengelola emosi cukup mudah dan sederhana. Seluruh konsep diringkas dalam dua poin mudah:

1.    Lihatlah orang-orang di bawah kita dalam urusan duniawi

2.    Lihatlah orang-orang di atas kita dalam masalah agama

Serangkaian aturan sederhana untuk mengelola emosi ini memberi kita konten batin dengan apa yang kita miliki dan 'berkonsentrasi' pada apa yang lebih penting. Islam menekankan pada 'kebahagiaan batin' dan 'kepuasan'. Ada banyak orang yang mencari nafkah, tetapi gagal untuk mendapatkan kehidupan. Islam pertama-tama ingin lebih menekankan pada kehidupan daripada kehidupan. Dan kami memiliki kompas yang akurat, tidak peduli berapa kali kami jatuh, kami akan puas karena kami tahu ke mana kami menuju.

Emphaty

Empati, kemampuan lain yang dibangun di atas kesadaran diri emosional, adalah "keterampilan orang" yang mendasar. Karena keadaan pikiran, keyakinan, dan keinginan orang lain terkait dengan emosi mereka, orang yang berempati terhadap orang lain mungkin sering kali dapat lebih efektif mendefinisikan cara berpikir dan suasana hati orang lain. Empati sering dicirikan sebagai kemampuan untuk "menempatkan diri pada posisi orang lain", atau mengalami pandangan atau emosi makhluk lain di dalam diri sendiri, semacam resonansi emosional.

Dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW dapat melihat segala macam orang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan menyelesaikan masalah mereka, ini karena Nabi Muhammad SAW sangat menyadari emosi orang lain dan apa yang ada dalam pikiran mereka. Inilah sebabnya mengapa setiap orang yang bertemu Nabi Muhammad SAW merasa lega ketika dia pergi. Kita juga didorong untuk berdoa bagi orang lain yang membuat kita merasa bagi orang lain.

Nabi Nabi Muhammad SAW berkata,

" Umat Islam yang utuh seperti satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh terluka, seluruh tubuh merasakannya".

Sosial Awareness

Seni menangani hubungan, sebagian besar, adalah keterampilan dalam mengelola emosi orang lain. Dalam Islam ada tekanan besar yang diletakkan pada itu. Islam mengikat kita dalam persaudaraan, yang memiliki prinsip Persamaan dan Cinta. Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah dia menyuruh orang untuk saling mencintai dan untuk itu dia memberi tahu mereka alat 'Salam'. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling banyak tersenyum dan tidak pernah marah. Dia menyuruh kami untuk bersikap baik kepada pelayan kami dan memaafkan kesalahan mereka. Semua sahabat Nabi Muhammad SAW merasa bahwa saya adalah orang yang paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Kita diperintahkan untuk menjaga kesetaraan di antara saudara-saudara kita. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kejadian yang Akan Terjadi di Akhir Zaman